Jaringan Islam Anti Diskriminasi [JIAD] Jawa Timur

May 10, 2007

Siaran Press Terkait Diskriminasi Ditinjau dari Hukum Islam (Fiqh)

Filed under: Uncategorized

Diskriminasi dengan berbagai bentuknya, nampaknya, masih begitu kental dan mengemuka. Berdasarkan pengalaman Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur, paling tidak ada dua bentuk diskriminasi yang berkembang subur, yaitu: regulasi atau perundang-undangan (kebijakan) dan akses pelayanan publik. Diskriminasi dalam bentuk regulasi ditunjukkan oleh masih adanya kebijakan-kebijakan pemerintah, khususnya pemerintah yang secara tegas membatasi akses pemenuhan hak kewarganegaraan minoritas etnik. Disini, Negara secara langsung telah memberlakukan standar ganda, yang disatu sisi memberikan hak kewarganegaraan sepenuhnya kepada seseorang, namun pada saat yang sama membatasi perseorangan lainnya. Dalam bentuk akses pelayanan publik, diskriminasi cukup mengemuka yang ditunjukkan oleh masih kentalnya “komersialisasi” pelayanan untuk kepentingan “segelintir” aparat pemerintah. Selain itu, pembedaan persyaratan terhadap minoritas untuk mendapatkan akses pelayanan publik juga menjadi bagian nyata dari praktek diskriminasi yang melibatkan “segelintir” aparat pemerintah tersebut.
Dalam kasus diskriminasi di Kota Surabaya, catatan penting yang hendak dinyatakan oleh Jaringan Islam Anti-Diskriminasi adalah, dampak yang dirasakan langsung oleh para “korban” diskriminasi tersebut. Hak-hak mereka sebagai individu maupun “warganegara” praktis disingkirkan/tersingkirkan. Paling tidak, hak atas pemenuhan status sebagai warga Negara, hak berpolitik, hak sosial-ekonomi dan budaya terberangus oleh regulasi/kebijakan dan praktek diskriminasi oleh “pemerintah” itu. Selain itu, trauma dan ketakutan psikologis cukup kuat menghinggapi pada korban diskriminasi tersebut.
Pertama,  hilangnya atau tanpa status kewarganegaraan (stateless) adalah hak paling asasi yang masih begitu sulit didapatkan hingga kini.  Di Kota Surabaya, etsimasi JIAD meyakini banyak terdapat “ribuan” individu dari etnik minoritas yang sampai saat ini masih bertatus tanpa kewarganegaraan (stateless). Rumitnya persyaratan untuk mendapatkan status kewarganegaraan menjadi salah satu penyebab utamanya. Selain itu, praktek-praktek “pungli” atau “komersialisasi” dalam pemenuhan persyaratan itu pun juga masih dengan mudah ditemukan di Surabaya, meski terkadang sulit dibuktikan karena begitu rapinya mekanisme bekerjanya pungli tersebut.
Kedua, hilangnya hak-hak berpolitik secara normal adalah dampak yang juga kental di Kota Surabaya. Sudah pasti, para stateless sama sekali tidak memiliki hak politik sebagaimana warga lainnya. Salah satu bentuk nyata hilangnya hak berpolitik mereka adalah, hak pilih dalam momentum politik baik lokal maupun nasional. Selama puluhan tahun, sebagaian besar stateless sama sekali tidak memiliki hak ikut pemilu legislatif. Mereka juga tidak berkesempatan mengikuti momentum politik Pilpres/Wapres kemarin. Dapat dibayangkan, jika status kewarganegaraan mereka belum terpenuhi maka sepanjang hayatnya hak politik yang seharusnya melekat dalam diri mereka akan tetap terberangus/hilang.
Ketiga, hilangnya hak sosial ekonomi dan budaya ditunjukkan  oleh tidak adanya ruang bagi stateless untuk menunjukkan tradisi dan budaya mereka di ranah publik. Ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan warga negara yang begitu bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka. Akses untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sebagaimana mestinya juga tersingkirkan. Temuan JIAD menunjukkan betapa sulitnya para stateless mendapatkan pekerjaan akibat tidak adanya dokumen kependudukan, yang seringkali menjadi salah satu syarat utama melamar pekerjaan.
Keempat,  hidup dan kehidupan yang penuh dengan bayang-bayang ketakutan juga sebagai dampak langsung regulasi dan praktek kebijakan diskriminatif di Kota Surabaya.  Pengakuan para stateless menegaskan, sebagaian dari mereka jarang berani keluar rumah karena takut terkena razia atau operasi kependudukan. Dan lebih menakutkan lagi bagi mereka, bayang-bayang deportasi jika tertangkap razia kependudukan tersebut karena statusnya yang stateless. Para stateless dari minoritas etnik Tionghoa, misalnya, tentu akan dianggap pendatang illegal yang harus dikembalikan ke Negara China. Pada saat yang sama, mereka sama sekali tidak mengenal Tiongkok karena memang lahir di Indonesia, hidup puluhan tahun di Indonesia, dan tidak memiliki satu keluarga pun di Negara tersebut.
Dalam konteks di atas, pada tanggal 7-8 Mei bertempat di kantor PWNU Jawa Timur,  Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur beserta Jaringan Call Center Diskriminasi Layanan Kependudukan dan Kewarganegaraan yang beranggotakan ; GKI Surabaya, Majelis Budayana Indonesia, GKJW MD Surabaya Barat, MAKIN Pak Kik Bio, MAKIN Boen Bio,  dan SiKAD, bekerjasama dengan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur dan Yayasan TIFA, telah mengadakan pertemuan untuk membahas persoalan diskriminasi secara umum maupun spesifik yang berkaitan dengan layanan publik kependudukan dan kewarganegaraan di kota Surabaya dalam perspektif fiqh.
Hasilnya, secara umum pemerintah tidak boleh/HARAM melakukan praktek diskriminasi karena hal itu bisa dikategorikan perbuatan dlolim dan penyalahgunaan kekuasaan (al juur). Termasuk didalamnya, pemerintah juga HARAM menelantarkan status kewarganegaraan seseorang karena dapat menyebabkan hilangnya hak-haknya sebagai warganegara.
Pada dasarnya, meski semua rakyat wajib mentaati semua peraturan pemerintah sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam. Namun, jika ada peraturan atau kebijakan pemerintah yang diskriminatif maka bagi rakyat yang terdiskriminasi dan tidak mentaati aturan tersebut tidak dapat dikatagorikan sebagai tindakan melanggar hukum.,
Perlu dipahami bersama, bahwa posisi agama dalam hal ini justru mensyariatkan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Surabaya, 8 Mei 2007
Kordinator Pelaksana Bahtsul Masail

Mashuri.

HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL

LBM PWNU JATIM – Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) JATIM
TENTANG DISKRIMINASI

 

1.      (Soal): Bagaimana hukumnya bagi pemerintah melakukan diskriminasi baik ras/etnik, gender dan agama terhadap rakyatnya?.
(Jawab): Hukumnya (tidak boleh) haram karena diskriminasi merupakan perbuatan juur atau dhalim (menyalahgunakan  kekuasaan). Agama justru mensyariatkan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Maraji’ no : 1               
المائدة : 8
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (8)
الفوائد الجنية ج 2 ص 123 تأليف : ابى الفيض محمد يأسين بن عيسى الفادانى المكى
(تصرف الامام ) اى الاعظم ومثله نوابه من قاض وغيره (على الرعية) المولى هو عليهم (منوط) مقترن جوازه (بألمصلحة)
( اى الاعظم) وهو السلطان او الملك او الخليفة وكذا رئيس الجمهورية
(قوله على الرعية) اسم للناس الذين تحت تدبير وسياسة الحاكم او الامير
(Kebijakan pemimpin) tertinggi dan juga pemimpin dibawahnya seperti Hakim dan lainnya (atas rakyat) pihak yang dikuasai (digantungkan) berbarengan (dengan kemaslahatan).
(Pemimpin tertinggi) yang maksud adalah sulthan, raja, khalifah dan presiden.
(Rakyat) nama bagi manusia yang berada dibawah wilayah kekuasaan hakim atau amir (kepala daerah).
(الإنسان الكامل ص : 133)
قال تعالى : وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين. (الأنبياء : 107) فهو صلى الله عليه وسلم رسول الرحمة الذي أرسله الله تعالى رحمة لجميع العالمين. رحمة للمؤمنين ورحمة للكافرين ورحمة للمنافقين ورحمة لجميع بنى الإنسان الرجال والنساء والصبيان ورحمة للطين والحيوان فهو رحمة عامة لجميع خلق الله تعالى.
Firman Allah (artinya) : “Dan aku tidak mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi sluruh alam”. Nabi SAW adalah Rasul Pembawa rahmat yang diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmat bagi orang mukmin, orang kafir, orang munafik, bagi seluruh umat manusia baik laki-laki, perempuan, anak-anak, dan juga rahmat bagi tanah dan hewan. Jadi beliau sebgai rhmat bagi seluruh makhluk Allah SWT.

 

2.      (Soal): Jika tidak boleh, apakah rakyat yang terdiskriminasi tersebut diperbolehkan tidak mentaati aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah?.
(Jawab): Pada dasarnya, semua rakyat wajib mentaati semua peraturan pemerintah selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam. Namun, jika ada peraturan atau kebijakan pemerintah yang diskriminatif maka bagi rakyat yang terdiskriminasi dan tidak mentaati aturan tersebut tidak dapat dikatagorikan sebagai tindakan melanggar hukum.

 

Maraji’ no : 2
يا أيها الذين آمنوااطيعوا الله  وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تاويلا (59)

مسند أحمد ج: 1 ص: 131

 حدثنا عبد الله ثنا عبيد الله بن عمر القواريري ثنا بن مهدي عن سفيان عن زبيد عن سعد بن عبيدة عن أبي عبد الرحمن السلمي عن على عن النبي  صلى الله عليه وسلم قال لا طاعة   لمخلوق  في معصية الله عز وجل
Telah menceritakan kepada kami Abdullah, menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar al-Qawaririy, menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Sufyan, dari Zubaid, dari Sa’d bin Ubaidah, dari Abi Abdirahman al-Sulamiy, dari Ali, dari Nabi SAW beliau bersabda : “Tidak diperbolehkan taat bagi makhluk dalam maksiat terhadap Allah ‘Azza wa Jalla.

مصنف ابن أبي شيبة ج: 6 ص: 545

 حدثنا وكيع قال ثنا مبارك عن الحسن قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم لا طاعة   لمخلوق  في معصية الخالق

Telah menceritakan kepada kami Waki’ ia berkata menceritakan kepada kami Mubarak darai Hasan ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh taat bagi makhluk dalam maksiat terhadap Al-Khaliq.

سنن الترمذي ج: 4 ص: 209

حدثنا قتيبة حدثنا الليث عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن بن عمر قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره ما لم يؤمر بمعصية فإن أمر بمعصية فلا سمع عليه ولا طاعة

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, menceritakan kepada kami al-Laits dari Ubaidillah bin Umar, dari Nafi’ dari Ibni Umar ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ketaatan adalah wajib atas seorang muslim dalam hal yang ia suka atau tidak suka selama ia tidak diperintah maksiat, dan jika ia diperintah maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat”. 

تحفة الأحوذي ج: 5 ص: 298

باب ما جاء لا طاعة المخلوق في معصية الخالق    قوله الأولى الأمر بإجابة أقوالهم والطاعة لأوامرهم وأفعالهم على المرء المسلم أي حق وواجب عليه فيما أحب وكره أي فيما وافق غرضه أو خالفه ما لم يؤمر أي المسلم من قبل الامام بمعصية أي بمعصية الله فإن أمر بضم الهمزة فلا سمع عليه ولا طاعة تجب بل يحرم إذا لا طاعة   لمخلوق  في معصية الخالق
التشريع الجنانى الإسلامى لعبد القادر عودة الجزء الثانى ص:675
ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا ولكم من المتفق عليه  أن الإمتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية

3.      (Soal): Apa hukumnya bagi pemerintah yang diskriminatif sehingga menyebabkan  status kewarganegaraan seseorang menjadi terlantar?.

(Jawab): Haram karena penelantaran terhadap status kewarganegaraan seseorang oleh pemerintah dapat menyebabkan hilangnya hak-hak sebagai warganegara

Maraji’ no : 3

الفقه الإسلامي وأدلته ج 6 ص 719
العدل مع الاقليات الدينية و السياسية نخصص هذا المطلب للرد على دعاوي القئلين بعدم إمكان الحكم بتشريع الإسلام حماية للأقليات مع أن الإسلام في ضمانه حقوق هؤلاء واضح صريح متسامح أحيانا أكثر مما يجب واقعيا. فهم مع المسلمين سواء فى الحقوق ولا يلتزمون بكل الواجبات ويتركون وما يدينون ولهم حرية فى ممارسة شعائر دينهم ويمتنعوا  إكراه أحد منهم على الإسلام ولا يجوز الإعتداء على أشخاصهم و أموالهم و أعراضهم ومعابدهم قال ص م ألا من ظلم معاهدا او نقصه حقه أو كلفه فوق طاقته او أخذ منه  شئا بغير طيب نفس فأنا خصمه يوم القيامة , من أذى ذميا فأنا خصمه ومن كنت خصمه خصمته يوم القيامة,

4.      (Soal): Bagaimana tanggung jawab masyarakat dalam upaya penghapusan kebijakan dan praktek diskriminasi yang dilakukan pemerintah?.

(Jawab): Masyarakat wajib melakukan amar makruf nahi munkar ketika melihat kebijakan dan praktek diskriminasi yang dilakukan pemerintah sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Maraji’ no : 4
ال عمران :104
ولتكن منكم  أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون
بغية المسترشدين ، ص : 251، مانصه :
وَلَهُ دَرَجَتَانِ . التَعْرِيفُ ثُمَّ الوَعْظُ بِالكَلامِ اللَّطِيفِ ثُمَّ السَّبُّ وَالتَعْنِيفُ ثمَّ المَنْعُ بِالقَهْرِ ، وَالأوَّلانِ يَعُمَّانِ سَائِرَ المُسْلِمِينَ وَالأخِيرَانِ مَخْصُوصَانِ بِوُلاةِ الأمُورِ اهـ.

Amar ma’ruf nahi munkar ada dua tingkatan yaitu ta’rif (menyadarkan), kemudian menasihati dengan tutur kata yang baik, kemudian dengan kata-kata yang keras dan kemudian melarang dengan tegas. Dua yang pertama berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin dan dua yang akhir tertentu bagi pemegang kekuasaan.

Peserta Bahtsul Masail Anti Diskriminasi

No

Nama Partisipan
Lembaga
1.
KH.Drs. Mustain Syafi’i
PP. Tebuireng Jombang
2
KH.Dr.Imam Ghazali Said,M.A
PP Annur Surabaya
3
Gus Moh Ma’ruf
LBM PCNU Surabaya
4
KH. Wazir Ali ,M.Ag
PP. Denanyar Jombang
5
KH. Imam Nakhoi
LK MUI Situbondo
6
Dr. Maftuhin Rasmani
JIAD
7
Gus Aminoto Sa’doellah
PP. Sendang Senori Tuban
8
Gus Aang Baihaqi
PP. Al Amin Sooko Mojokerto
9
KH. Syafruddin
PWNU
10
KH. Ahmad Asyhar
PWNU
11
KH. Imam Syuhada;
LBM NU Jatim
12
KH. Romadlon Chotib
LBM NU Jatim
13
KH. Miftahul Ahyar
PWNU
14
Gus Mashuri
JIAD
15
Aan Anshori
JIAD
16
Gus Murdianto an Nawie
JIAD
17
Renata Arianingtyas
Yayasan TIFA

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://jiad.blogsome.com/2007/05/10/siaran-press-terkait-diskriminasi-ditinjau-dari-hukum-islam-fiqh/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M